Hallo semua, senang sekali rasanya saya menyapa pembaca saat ini.
Saya ingin sharing tentang pengalaman saya menanti buah hati selama 2,5 tahun, semoga sharing saya ini dapat bermanfaat bagi ibu-ibu yang sedang program kehamilan (Promil).
Enam bulan setelah menikah saya mulai kontrol ke dokter obgyn untuk mengecek kondisi rahim saya dan melakukan program hamil. waktu itu saya masih bekerja (ngantor berangkat pagi jam 6 pagi dan pulangnya malam, bisa jam 7/8 malam setiap senin sampai jumat). setelah dicek oleh dokter obgynnya melalui USG dan USG transvagina ternyata rahim saya baik-baik saja hanya bentuknya sedikit menjorok kedalam (saya belum paham bagaimana maksudnya itu sampai saat ini).
Saya punya keluhan menstruasi yang tidak lancar setiap bulannya terkadang saya mens 2 kali dalam sebulan bahkan 3 kali dalam sebulan, apakah faktor stres atau terlalu lelah menjadi pemicunya? akhirnya dokter menyarankan saya meminum pil sejenis Pil KB yang digunakan untuk mengatur masa haid supaya bisa dihitung masa suburnya. Bulan berikutnya setelah haid saya sekali sebulan saya pergi ke dokter obgyn lagi tepatnya hari ke-2 atau hari ke-3 haid, disana dokter melihat kondisi telur dll melalui USG trans V. Saya dapat obat untuk membesarkan telur dan jadwal hubungan suami istri.
Singkat cerita saya sudah 2 periode mengikuti promil dengan obat oral namun tidak berhasil, saya tidak menyerah sampai disitu, saya cari second opinion dengan mendatangi dokter obgyn atas saran google atau teman-teman saya dan saya jadi tour rumah sakit, karena dokter A saya merasa tidak cocok, pindah ke dokter B, dr.B tidak nyaman saya pindah ke dr.C dan begitulah selanjutnya sampai 8 dokter saya kunjungi dan saya merasa tidak pernah pas di hati saya, jujur saya lelah Fergussooo...
Selain saya lelah karena belum menemukan dokter yang pas di hati saya juga lelah karena buang-buang uang dan menimbun obat dan vitamin dirumah. Oiya pada saat awal-awal saya kontrol saya meminta suami saya untuk cek sperma, sebanyak dua kali dalam jeda waktu yang cukup lama dan hasilnya baik.
Pada akhirnya saya tidak emosional, saya coba cari tahu apa baiknya yang bisa saya lakukan selain berdoa, saya baca-baca banyak artikel di google dan ketemulah Test HSG (Hysterosalpingogram).
Sayangnya saya tidak pernah ditawarkan oleh dokter obgyn untuk melakukan tes HSG, entah kenapa. waktu saya datang ke rumah sakit saya mengajukan diri untuk minta dilakukan cek lab atas rahim dan saluran rahim saya, malah dokter menyarankan Laparascopy dengan biaya sebesar 15 juta tahun 2018, Laparoscopy itu sejenis operasi kecil, jadi nanti pasiennya rawat inap semalam saja, dan tekniknya menggunakan kamera yang sangat kecil untuk dimasukan ke dalam perut bawah untuk melihat kondisi rahim dengan lebih detail dan jelas. Saya tanya apakah bila saya cek dengan laparoscopy setelahnya saya pasti hamil? dokter katakan belum tentu, karena itu hanya sekedar melihat kondisi didalam rahim dan membersihkan saluran tuba rahim, dokter katakan apabila saluran tubanya bersih dan tidak ada sumbatan maka ada kemungkinan setelah dibersihkan maka pasien segera hamil.
Saya mencari alternatif lainnya di google dan saya menemukan test HSG, setelah saya pelajari saya merasa ini adalah upaya terakhir saya untuk program hamil, jujur saya sudah capek minum obat, saya juga sudah keluar banyak biaya jadi saya memutuskan untuk tes HSG, bila hasilnya saya tidak ada sumbatan di saluran rahim saya, berarti saya dan suami sehat. Berarti kami harus bersabar dan berserah kapan Tuhan ijinkan kami memiliki anak, yang penting kami sudah berusaha dan berdoa.
Setelah sekian lama saya tidak ke dokter obgyn, pergilah saya ke RSIA terdekat untuk meminta surat rekomendasi melakukan Tes HSG, awalnya dokter, menyarankan laparoscopy tapi saya menolak, saya sudah yakin tes HSG adalah usaha terakhir saya. Akhirnya saya mendapat surat rekomendasi dari dr. obgyn dan saya melakukan tes HSG di lab Pramita Surabaya.
Pengalaman Tes HSG
Saya tidak ada rencana untuk sharing di blog, jadi waktu itu (2018) saya tidak ambil foto, mohon maaf ya...
Saya ke Lab Pramita sendirian dengan membawa kendaraan sendiri, karena saya tanya ke dr obgyn apakah tes HSG sakit dok? "enggak kok kayak nyeri dikit aja"
Pertama saya diminta ganti pakaian dan meninggalkan semua perhiasan dan barang-barang lainnya, masuk ke ruangan ada meja panjang untuk berbaring dan alat foto rontgen.
(ini bukan bermaksud porno ya, saya hanya sharing sebagai edukasi)
Alat semprotnya dimasukan melalui miss V, rasanya sakit luar biasa ketika dipasang alat untuk membuka dan menyangga mulut miss V agar terbuka. Saya harus atur nafas supaya nyerinya tidak terlalu parah. selang beberapa menit rasa nyeri mulai menghilang.
Dokter mulai menyiapkan alat semprot dan selangnya, jadi ada beberapa macam selang yang dipakai tergantung kebutuhan, Beberapa kali dokter gagal menyemprotkan karena cairan yg disemprotkan kembali keluar, bersyukur saat hal itu terjadi dokter masih positif thingking, "kok keluar lagi ya cairannya, kayaknya ini selangnya kurang pas" kemudian dokter mengganti lagi selangnya, dengan selang yang bahannya kayak balon. Dokter menyemprotkan lagi dan puji Tuhan cairannya tidak kembali lagi. Oiya pada saat disemprotkan cairannya saya tidak merasakan sakit sama sekali, malah saya tidak sadar kalau ternyata sudah selesai. Mungkin karena saya sudah kesakitan pas proses diawal tadi ya.
Sebelum hasil fotonya selesai dokter bilang, "saya yakin tidak ada sumbatan, salurannya bersih", saya senang sekali dengarnya, dokternya pun sabar. Saya ganti baju dan menunggu diruang tunggu sambil minum milo panas yang disediakan di Lab pramita, dan mulailah muncul rasa nyeri yang luar biasa, selama menstruasi saya belum pernah tahu rasanya orang nyeri haid (dilepen), tapi saya merasakan saat itu, bahkan ketika perjalanan pulang, saya sampai tidak bisa nyetir, beberapa kali mobil saya seperti pengen nabrak karena rasa nyerinya bikin gagal fokus, karena itu Bu Ibu yang mau tes HSG usahakan ditemani dan diantar ya :)
Saya melakukan test HSG kira-kira dibulan 29 November 2018 , biayanya sekitar Rp 1.350.000, apakah bulan depannya saya langsung hamil?
Tidak Ibu Ibu... saya tidak langsung hamil bulan depannya, saya sudah berusaha dan menjalankan yang menjadi bagian saya, sisanya saya serahkan pada Tuhan, biar Tuhan yang menyempurnakan usaha hambanya.
Tapi saya sangat lega dan bersyukur karena saya tidak langsung diberi momongan memang atas seijin Tuhan, bukan karena sakit penyakit (meski galau pengen punya anak tetap wajib bersukur ya ...)
lanjut ke sharing saya selanjutnya ya bu ibu...

No comments:
Post a Comment